Gaya bermain · Analisis
Jebakan offside: aturan offside dengan bahasa sederhana dan cara bek memakainya
Aturan offside dalam bahasa sederhana: kapan pemain offside menurut Law 11, kapan jadi pelanggaran, dan cara bek naik bersama memasang jebakan offside.
Pemain offside jika ia berada di depan bola dan di depan lawan kedua terakhir di separuh lapangan lawan saat rekannya mengumpan, lalu ikut bermain. Jebakan offside memanfaatkan aturan itu: barisan bek naik bersamaan agar penyerang lawan tertinggal di posisi offside.
Tepatnya, Law 11 membandingkan posisi penyerang dengan bola dan lawan kedua terakhir pada saat rekannya memainkan atau menyentuh bola. Hanya jika ia kemudian terlibat dalam permainan, posisinya menjadi pelanggaran.
Aturan ini membentuk cara setiap tim menyerang dan bertahan. Tanpa offside, penyerang bisa menunggu di samping kiper. Dengan offside, garis pertahanan menentukan seberapa luas ruang di belakang dan seberapa tinggi seluruh tim bisa bermain.
Bagaimana sepak bola Indonesia menyebutnya
Di Indonesia, kata offside tidak diterjemahkan. Wikipedia bahasa Indonesia mencatat padanan "luar posisi", tetapi komentator, wasit dan penonton hampir selalu bilang offside. Taktiknya disebut jebakan offside, kadang offside trap. detikSport menulis bahwa offside biasanya dipakai para pemain belakang untuk menjebak lawan.
Pembahasan offside di media Indonesia juga sering menyentuh kontroversi. Goal Indonesia menulis bahwa arti "mengganggu lawan" pada akhirnya tergantung keputusan wasit. Perdebatan itu tidak hilang walau sudah ada VAR.
Aturan offside dengan bahasa sederhana
Aturannya adalah Law 11 dalam Laws of the Game, yang ditulis International Football Association Board (IFAB). Poin pentingnya:
- Posisi: pemain berada dalam posisi offside jika bagian kepala, badan atau kakinya ada di separuh lapangan lawan dan lebih dekat ke garis gawang lawan daripada bola dan lawan kedua terakhir.
- Tangan dan lengan tidak dihitung: IFAB menyatakan tangan dan lengan semua pemain, termasuk kiper, tidak diperhitungkan.
- Sejajar berarti onside: pemain yang sejajar dengan lawan kedua terakhir, atau dengan dua lawan terakhir, tidak berada dalam posisi offside.
- Separuh lapangan sendiri aman: pemain di separuh lapangannya sendiri tidak bisa offside.
Berada di posisi offside bukan pelanggaran. Pelanggaran baru terjadi jika, saat rekannya memainkan atau menyentuh bola, pemain itu terlibat aktif. Caranya bisa dengan memainkan atau menyentuh bola, mengganggu lawan, atau mendapat keuntungan dari bola yang memantul dari tiang, mistar, ofisial atau lawan.
Ada juga pengecualian. Pemain tidak bisa offside jika menerima bola langsung dari tendangan gawang, lemparan ke dalam atau tendangan sudut. Jika lawan sengaja memainkan bola, bukan sekadar membelokkan atau menyelamatkan, pemain di posisi offside yang menerimanya tidak dihukum. Hukumannya tendangan bebas tidak langsung untuk tim yang bertahan, dari tempat pelanggaran terjadi.
Bagaimana aturannya berubah
Wikipedia menelusuri sejarahnya bertahap. Aturan pertama FA pada 1863 sangat ketat. Pada 1866 FA mengizinkan pemain memainkan bola selama ada setidaknya tiga lawan di antara dia dan gawang. Pada 1925 angka itu diturunkan dari tiga menjadi dua. Gol pun bertambah, dan pelatih mencari formasi baru, yang paling terkenal WM dengan centre-half yang turun ke lini belakang. Kisahnya ada di panduan bek tengah.
Pada 1990 IFAB menetapkan bahwa penyerang yang sejajar dengan bek kedua terakhir dianggap onside, sehingga keraguan menguntungkan penyerang. Pada 2005 IFAB memperjelas bahwa hanya kepala, badan dan kaki yang dihitung, karena tidak ada keuntungan jika hanya lengan yang berada di depan.
Jebakan offside
Jebakan offside menjadikan aturan itu senjata. Saat lawan hendak mengirim umpan ke depan, para bek naik bersama pada saat yang sama. Penyerang yang sedetik sebelumnya onside kini berada di belakang garis saat bola dimainkan.
Ada tiga syaratnya:
- Garis yang bergerak bersama: jika satu bek tertinggal, ia membuat semua penyerang onside. Biasanya bek tengah yang memimpin langkah.
- Pemicu: garis naik saat kepala pembawa bola menunduk atau saat ia hendak mengumpan, bukan sesudahnya. Logikanya mirip pemicu pressing.
- Tekanan pada bola: pengumpan yang punya waktu bisa menunggu lari rekannya. Pengumpan yang ditekan tidak bisa.
Wikipedia menyebut Notts County sebagai pelopor taktik ini pada awal abad ke-20. Contoh modern paling terkenal adalah AC Milan asuhan Arrigo Sacchi pada akhir 1980-an. Tim itu memadukan garis pertahanan tinggi dan jebakan offside dengan penjagaan zona dan pressing agresif. Total football Ajax pada awal 1970-an juga mengandalkan jebakan yang terlatih. Sebaliknya, catenaccio Italia memilih garis dalam dengan libero bebas di belakangnya.
Taktik ini masih hidup. Menurut Wikipedia, Liverpool asuhan Jürgen Klopp, dengan Virgil van Dijk mengatur garis, menjebak lawan offside 53% lebih sering daripada Manchester City di Premier League 2021-22.
Mengapa tim memakainya
Garis tinggi dengan jebakan offside memadatkan lapangan. Penyerang lawan tidak bisa menunggu di ruang di belakang pertahanan. Jarak antarlini tim menyusut, dan pressing bekerja lebih baik karena ruang untuk mengumpan berkurang. Jebakan offside adalah pasangan alami gegenpressing dan garis pertahanan tinggi.
Risikonya
Saat gagal, jebakan offside gagal secara dramatis. Jika satu bek salah langkah, atau pengumpan tidak ditekan dan melepas bola sesaat kemudian, penyerang lolos ke gawang dengan hanya kiper di depannya. Karena itu tim yang bertahan tinggi butuh kiper yang berani keluar menyapu bola di belakang garis, tugas yang dulu dikerjakan libero, serta bek tengah yang cepat untuk mengejar.
Teknologi modern membuat taruhannya lebih besar. Dengan tayangan ulang video dan pelacakan berbasis kamera, selisih yang sangat kecil kini diperiksa dengan presisi. Garis yang terlambat sepersekian detik dihukum lebih konsisten. Jebakan yang berhasil hanya beberapa sentimeter juga tetap sah.
Cara mengenalinya dalam pertandingan
Perhatikan garis pertahanan, bukan bola. Saat playmaker lawan menerima bola menghadap ke depan, tim yang memasang jebakan akan naik sebagai satu unit. Sering ada teriakan atau lengan terangkat dari bek tengah, dan penyerang tiba-tiba sudah berada di belakang garis. Hitung berapa kali bendera asisten wasit terangkat di babak pertama. Angka yang tinggi biasanya berarti jebakan yang disengaja, bukan sekadar nasib buruk penyerang. Untuk melihat siapa yang biasanya memimpin garis, baca panduan posisi pemain sepak bola.
Apa itu offside dalam sepak bola secara sederhana?
Pemain offside jika, saat rekannya mengumpan, ia berada di separuh lapangan lawan dan lebih dekat ke garis gawang daripada bola dan bek kedua terakhir, lalu ia terlibat dalam permainan. Posisi sejajar dianggap onside.
Apakah bisa offside dari lemparan ke dalam atau tendangan gawang?
Tidak. Law 11 menyatakan pemain tidak bisa offside jika menerima bola langsung dari tendangan gawang, lemparan ke dalam atau tendangan sudut.
Apakah tangan dihitung dalam offside?
Tidak. Hanya kepala, badan dan kaki yang dihitung. Law 11 IFAB menyatakan tangan dan lengan semua pemain, termasuk kiper, tidak diperhitungkan.
Apa itu jebakan offside?
Jebakan offside adalah taktik bertahan di mana barisan bek naik bersama tepat sebelum lawan mengumpan ke depan. Akibatnya penyerang lawan tertinggal di posisi offside saat bola dimainkan.
Apa hukuman untuk offside?
Wasit memberikan tendangan bebas tidak langsung kepada tim lawan, dari tempat pelanggaran terjadi. Gol yang dicetak dari posisi offside yang aktif dianulir.
Sumber dan bacaan lanjutan
- Law 11 – Offside — IFAB
- Offside — Wikipedia bahasa Indonesia
- Mengenal Offside dalam Sepakbola, Posisi, dan Peraturannya — detikSport
- GOALPEDIA: Serba-Serbi Off-Side — Goal Indonesia
- Offside (association football) — Wikipedia