Formasi dan peran · Analisis

4-3-3 vs 4-2-3-1: satu segitiga lini tengah, dibalik

4-3-3 memakai satu pivot di belakang dua nomor 8, 4-2-3-1 dua gelandang bertahan di belakang nomor 10. Tabel perbandingan, diagram, dan cara membedakannya.

Dua lapangan sepak bola berdampingan. Kiri: 4-3-3 dengan tiga gelandangnya, satu pivot dan dua nomor 8, berwarna merah. Kanan: 4-2-3-1 dengan dua gelandang bertahan dan nomor 10 berwarna merah.
Gambar: Touchline Notes

Formasi 4-3-3 menaruh satu gelandang jangkar di belakang dua gelandang nomor 8, dengan dua penyerang sayap di samping striker. Formasi 4-2-3-1 membalik segitiga itu: dua gelandang bertahan di belakang satu nomor 10, dan pemain sisi memulai satu garis lebih dalam, sejajar dengannya.

Kedua bentuk memakai empat bek, satu penyerang tengah, dan lima pemain di antaranya. Cara menyusun lima pemain itu menentukan siapa yang melindungi pertahanan, siapa yang menerima bola di antara lini, dan siapa yang menekan lebih dulu. Latar lengkapnya ada di artikel formasi 4-3-3 dan formasi 4-2-3-1.

4-3-3 4-2-3-1
Segitiga lini tengah Satu pivot di belakang dua nomor 8 Dua gelandang bertahan di belakang satu nomor 10
Nomor khas 6, 8, dan 8 6 dan 8 (atau dua nomor 6), lalu 10
Sumber kreativitas Dua nomor 8 yang masuk ke half-space, dan penyerang sayap Nomor 10 di antara lini, dibantu dua gelandang serang sisi
Pemain sisi Penyerang sayap, tinggi dan sejajar striker Gelandang serang sisi, sedikit lebih dalam, sering memotong ke dalam
Tanpa bola Trio depan menekan; sering turun menjadi 4-5-1 atau 4-1-4-1 Biasanya 4-4-2 atau 4-4-1-1, nomor 10 naik di samping striker
Risiko bawaan Ruang di kiri-kanan pivot tunggal Jarak antara pasangan gelandang bertahan dan empat pemain depan
Contoh terkenal Liverpool asuhan Jürgen Klopp Liverpool asuhan Arne Slot, Liga 1 musim 2017

Lini tengah: satu pivot dan dua nomor 8, atau double pivot dan nomor 10

Dalam 4-3-3, gelandang terdalam berdiri sendirian. Coaches' Voice, dalam ulasan yang dimuat Premier League, menyebut pivot ini harus memancing pressing lawan agar rekannya mendapat ruang, dengan Sergio Busquets di Barcelona sebagai contoh. Di depannya, dua nomor 8 dituntut punya teknik yang sangat baik dan selalu memberi pilihan umpan. Gelandang nomor 8 yang bergerak melebar adalah yang orang Italia sebut mezzala. Kreativitas dibagi di antara mereka.

4-2-3-1 memusatkannya. Double pivot melindungi empat bek, dan menurut Coaches' Voice juga menutup ruang di antara lini. Itu membebaskan satu pemain, gelandang serang atau nomor 10, untuk tinggal di antara lini tengah dan pertahanan lawan, di kantong yang dikenal sebagai zona 14. Coaches' Voice menelusuri bentuk ini ke 2000-an, ketika tim ingin menutup akses lawan ke ruang itu. Awalnya satu gelandang jangkar seperti Claude Makélélé yang menjaganya. Baru kemudian gelandang bertahan kedua ditambahkan.

Untung-ruginya begini. 4-3-3 punya dua gelandang yang bisa tiba di kotak penalti dan satu yang wajib tinggal. 4-2-3-1 punya dua yang tinggal dan satu yang menerima bola. Jadi 4-2-3-1 lebih aman di depan bek tengah, tetapi bersandar pada satu kreator.

Penyerang sayap melawan gelandang serang sisi

Dalam 4-3-3, menurut Coaches' Voice, ketiga pemain depan harus benar-benar pemain menyerang. Penyerang sayap memulai sejajar striker. Ada yang bermain di sisi kaki terkuatnya untuk mencari duel satu lawan satu. Ada juga yang bermain terbalik dan masuk ke dalam untuk membuka jalur bagi bek sayap. Real Madrid asuhan Carlo Ancelotti memakai penyerang sayap cepat untuk menyerang ruang di belakang pertahanan lawan saat serangan balik.

Dalam 4-2-3-1, pemain sisi adalah bagian dari barisan gelandang serang. Coaches' Voice menulis bahwa mereka sering bermain di sisi yang berlawanan dengan kaki terkuatnya dan memotong ke dalam untuk mengancam gawang. Karena memulai lebih dalam, jarak mereka untuk kembali ke barisan empat gelandang lebih pendek.

Dengan bola: membangun serangan

4-3-3 membangun lewat segitiganya. Pivot turun atau menawarkan diri, dua nomor 8 berdiri di ketinggian berbeda, dan posisi bek sayap menentukan apakah tim mendapat pemain bebas saat lawan menekan lini tengah.

4-2-3-1 punya dua pemain di belakang bola sebelum serangan dimulai. Satu gelandang bertahan bisa turun ke samping bek tengah, sementara yang lain tetap di depan garis tekanan pertama. Bek sayap pun bisa naik. Titik lemahnya ada di depan. Coaches' Voice mencatat bahwa penyerang tunggal bisa terisolasi dan selalu kalah jumlah melawan bek tengah lawan.

Tanpa bola: cara masing-masing menekan

4-3-3 menekan dengan trio depannya. Mereka bisa menggiring build-up lawan ke satu sisi. Tetapi Coaches' Voice mengingatkan bahwa jika trio itu dilewati, lawan bisa maju dengan mudah. Tiga gelandang lalu harus bergeser menutup seluruh lebar lapangan, dan itu butuh daya tahan dan disiplin posisi. Banyak tim 4-3-3 menurunkan penyerang sayap ke lini tengah dan bertahan dalam 4-1-4-1 atau 4-5-1. Striker pun tinggal sendirian di depan.

4-2-3-1 menekan berpasangan. Menurut Coaches' Voice, penyerang tengah memulai pressing dan nomor 10 bergabung di sampingnya, sehingga tim bertahan dalam 4-4-2 atau 4-4-1-1. Double pivot menutup celah di antara tiga gelandang serang di depannya. Risikonya jarak. Jika pasangan gelandang bertahan terlalu dalam, tim terbelah menjadi enam pemain bertahan dan empat penyerang. Jika kedua bek sayap sudah naik, perpindahan bola cepat bisa membuat sisi lapangan terbuka.

Contoh di Indonesia dan Eropa

Liga 1 pernah punya jawaban yang jelas. Pada 2017, dalam workshop kelompok studi teknik PT Liga Indonesia Baru, Direktur Teknik PSSI Danurwindo menyebut 4-2-3-1 dominan dengan 67 persen klub. Sisanya memakai 4-3-3, dan hanya satu klub yang memakai 4-4-2. JPNN melaporkan angka itu.

Timnas juga pernah berpindah di antara keduanya. Bola.net mencatat bahwa pada laga debutnya melawan Oman, Shin Tae-yong memakai 4-2-3-1 dengan Evan Dimas sebagai nomor 10. Setelah itu ia lebih sering memakai 4-3-3, termasuk di Piala AFF 2020, saat Indonesia melaju ke final. Pada Agustus 2020, saat Shin baru menangani Timnas, Bola.com menggambarkan logika 4-3-3 secara umum: satu gelandang bertahan dan dua gelandang box-to-box, dengan barisan gelandang yang dituntut rajin membantu pertahanan.

Liverpool memperlihatkan perpindahan yang sama lewat dua pelatih. Wikipedia mencatat Liverpool asuhan Klopp juara Premier League dan Liga Champions dengan 4-3-3 dan trio depan Mohamed Salah, Sadio Mané, dan Roberto Firmino. Analisis Premier League mencatat Arne Slot mengganti 4-3-3 Klopp menjadi 4-2-3-1. Ryan Gravenberch dan Alexis Mac Allister menjadi double pivot yang memberi lapisan perlindungan tambahan, dan Liverpool juara.

Untuk 4-2-3-1, Wikipedia juga menyebut Liverpool asuhan Rafael Benítez, dengan Javier Mascherano, Xabi Alonso, dan Steven Gerrard di belakang Fernando Torres. Bayern München asuhan Jupp Heynckes meraih treble 2012-13 dengan bentuk ini.

Bagaimana tim berpindah di antara keduanya

Cukup satu gelandang yang bergerak. Dorong satu gelandang bertahan 4-2-3-1 ke depan dan tarik nomor 10 ke belakang, maka jadilah 4-3-3. Turunkan satu nomor 8 dari 4-3-3 ke samping pivot dan dorong yang lain ke belakang striker, maka jadilah 4-2-3-1. Pemain sisi tinggal naik atau turun beberapa meter. Untuk duel tiga gelandang melawan dua, lihat analisis 4-4-2 melawan 4-3-3.

Cara membedakannya saat menonton

Lihat lini tengah saat lawan memegang bola di dekat garis tengah. Jika satu pemain berdiri sendirian di depan bek tengah dengan dua rekan di depan dan di sampingnya, itu 4-3-3. Jika dua pemain berdiri berdampingan dan satu pemain melayang di belakang striker, itu 4-2-3-1.

Lalu lihat pressing. Tiga pemain depan yang melompat bersamaan ke arah bek lawan menandakan 4-3-3. Striker dan satu gelandang yang menekan berpasangan, dengan dua barisan empat di belakang, menandakan 4-2-3-1. Terakhir, pemain sisi yang sejajar striker adalah penyerang sayap. Pemain sisi yang sejajar nomor 10 adalah gelandang serang sisi.

Kapan pelatih memilih yang mana

Pelatih memilih 4-3-3 untuk lini tengah yang bisa menekan di seluruh lebar lapangan dan dua nomor 8 yang bisa mengumpan sekaligus tiba di kotak penalti. Syaratnya, pivot yang sanggup menjaga area luas sendirian. Pelatih memilih 4-2-3-1 untuk perlindungan di depan pertahanan, untuk pemain yang paling berbahaya di antara lini, dan untuk tim yang lebih nyaman bertahan dalam 4-4-2.

Bandingkan diagram bernomor 4-3-3 dan 4-2-3-1, lengkap dengan posisi dan nomor punggung.

Apakah 4-2-3-1 lebih bertahan daripada 4-3-3?

Biasanya lebih aman di depan bek tengah, karena dua gelandang menahan posisi, bukan satu. Itu tidak membuatnya bertahan secara keseluruhan. Nomor 10 dan dua gelandang serang sisi memberinya empat pemain menyerang, dan instruksi pelatih yang menentukan setinggi apa tim bermain.

Apakah 4-3-3 bisa berubah menjadi 4-2-3-1 di tengah laga?

Bisa, dan itu sering terjadi. Jika satu nomor 8 turun ke samping pivot dan yang lain naik ke belakang striker, bentuknya menjadi 4-2-3-1. Perubahan ini biasanya menambah perlindungan di depan pertahanan dan memberi satu pemain lebih banyak kebebasan di antara lini.

Apa bedanya penyerang sayap dan gelandang serang sisi?

Penyerang sayap dalam 4-3-3 memulai tinggi, sejajar striker, dan terutama bertugas menyerang. Gelandang serang sisi dalam 4-2-3-1 memulai sedikit lebih dalam, sejajar nomor 10, dan sering memotong ke dalam dari sisi yang berlawanan dengan kaki terkuatnya. Jaraknya untuk kembali ke barisan empat gelandang juga lebih pendek.

Formasi mana yang lebih bagus untuk pressing?

Keduanya bisa menekan dengan baik, tetapi caranya berbeda. 4-3-3 menekan dengan tiga penyerang dan butuh lini tengah yang cepat bergeser di belakang mereka. 4-2-3-1 menekan dengan dua pemain depan, striker dan nomor 10, didukung dua barisan empat. Struktur itu lebih sederhana untuk diatur.

Coba posisi ini di papan taktik.

Sumber dan bacaan lanjutan

  1. 67 Persen Klub Liga 1 Gunakan Formasi 4-2-3-1 — JPNN
  2. Transformasi Formasi Shin Tae-yong di Timnas Indonesia: Dulu 4-3-3 dan 4-4-2, Kini Mantap Pakai 3 Bek — Bola.net
  3. The 4-3-3 formation: five key points — Coaches' Voice / Premier League
  4. The 4-2-3-1: football tactics explained — Coaches' Voice / Premier League
  5. Analysis: The tactical tweaks that won the title for Liverpool — Premier League